Pesta Kerajaan dan Pesta Rakyat

on Jumat, 29 April 2011


KOMPAS.com — Perhelatan akbar besok, 29 April 2011, bukan hanya urusan Kerajaan Inggris. Berbagai kota siap memeriahkan pernikahan Pangeran William dan Catherine (Kate) Middleton. Delapan tahun persahabatan mereka di Edinburg berbuah pernikahan.

Pesta Kerajaan dan Pesta Rakyat
Lalu, apakah ini berarti rakyat Inggris masih mendukung eksistensi barang antik yang sudah berusia seribuan tahun yang sekarang disebut Kerajaan Inggris? Mungkin pertanyaan ini sebagian bisa dijawab dalam survei belakangan ini yang dilakukan surat kabarGuardian dan ICM.
Menurut sebuah perkiraan, penduduk Inggris Raya saat ini berjumlah 62 juta jiwa. Kalau jajak pendapat itu benar, mayoritas masih berpendapat bahwa monarki masih relevan dalam kehidupan bangsa Inggris. Katanya, Inggris lebih dihormati di dunia daripada alternatif lain, misalnya bentuk negara republik.
Dan pada saat ekonomi dilanda krisis berat sejak 2008, pesta kerajaan ini menjadi semacam hiburan di kala resesi. Oleh sebab itu, sebagian besar setuju perhelatan ini akan memberikan kegembiraan. Opini ini jelas mengecewakan kalangan republik yang menganggap monarki sudah ketinggalan zaman.
Dalam bahasa John Loughrey (56), bekas koki yang berkemah sejak Selasa (27/4), ”Kita telah bersamanya lebih dari 1.000 tahun dan mereka telah memberikan sumbangsih besar kepada kehidupan negara ini.”
Pada abad ke-21 ini monarki Inggris tampaknya masih akan bertahan dengan dukungan pada jajak pendapat MORI pada angka 70 persen tahun 2005. Tahun 2009 dalam jajak pendapat BBC dan ICM ditanyakan apakah monarki akan berlanjut setelah Ratu Elizabeth meninggal. Sebanyak 76 persen mengatakan ”ya”.
Alat pemersatu
Dalam jajak pendapat pun banyak orang berpendapat monarki menjadi alat pemersatu, bukan pemecah belah dan bukan pula memperkuat sistem kelas bangsawan versus rakyat jelata. Kehadirannya bisa dikatakan malah memperkuat kebanggaan orang Inggris.
Sebagai contoh, Local Government Association mencatat lebih dari 5.500 permohonan izin pesta rakyat di jalan-jalan telah diajukan. Di London sendiri akan berlangsung sekitar 850 pesta rakyat yang resmi diadakan pemerintah lokal dan masyarakat.
Ria Grand dari London timur mengatakan, pesta rakyat ini akan menjadi kegembiraan anak-anak. Selain itu, juga merupakan transfer budaya dalam Kerajaan Inggris. Lebih dari itu, pesta ini akan mengembalikan atmosfer persahabatan di antara tetangga. ”Di beberapa tempat, ada orang tidak tahu nama tetangganya,” katanya.
Terakhir kali pesta rakyat berlangsung adalah ketika Pangeran Charles menikahi Putri Diana tahun 1981. Jadi benar, inilah pesta rakyat dan kerajaan secara bersamaan dalam 30 tahun ini.
Namun, menjadi pesta rakyat? Pangeran William adalah putra sulung pasangan Pangeran Charles dan almarhum Putri Diana. Kehadiran Putri Diana mengubah wajah monarki yang ketinggalan zaman, tidak merakyat, dan elitis ini. Diana mengasuh William ala rakyat sehingga hidup sebagaimana warga biasa.
Melihat Pangeran William, bagi sebagian masyarakat, seperti melihat wajah Putri Diana, yang mereka ratapi ketika meninggal tahun 1997. Jadi, ada suasana magis, keterikatan Putri Diana dengan rakyat jelata.
Ini menjadi kuat ketika melihat Pangeran William. Ini ditambah lagi faktor Catherine Middleton, yang bukan bangsawan, melainkan berasal dari keluarga wiraswasta.
Persahabatan delapan tahun dengan Kate merupakan buah pendidikan Putri Diana sehingga William menerima apa adanya calon istrinya ini. Tidak heran jika Ellis Cashmore, profesor studi budaya dari Universitas Staffordshire, mengatakan adalah Putri Diana yang menjadikan keluarga Kerajaan Inggris ini menjadi selebriti.
Perhatian masyarakat lebih banyak kepada mereka dan bahkan kesalahan-kesalahan pun kadang dicari-cari oleh kalangan paparazi. Media di Inggris kadang-kadang kejam terhadap kesalahan sekecil apa pun anggota keluarga kerajaan.
Namun, berbeda dengan negara lain, misalnya di Thailand, di mana ada ketentuan penghinaan terhadap raja akan dihukum, di Inggris jarang terjadi hukuman dijatuhkan gara-gara menghina keluarga kerajaan. (Asep Setiawan, Kontributor Kompas di London)

0 komentar:

Posting Komentar